Latest Movie :

MAKALAH SISTEM INDERA


MAKALAH SISTEM INDERA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2011

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Rabb seluruh alam, yang telah menciptakan manusia dengan sempurna. Memberikan nikmat terbesaar iman dan islan yang tertancap mantap dilubuk hati kita.

Sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarganya, sahabatnya, tabi’innya, dan seluluh umatnya yang istiqomah mengikuti tuntunan dan teladan sampai akhir zaman.
Atas berkat rahmat Allah SWT, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Makalah  ini dengan judul “SISTEM INDRA
Penyusun menyadari bahwa Makalah  ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari beberapa pihak, maka pada kesempatan ini penulis menguncapan terima kasih kepada:
1)      Ibu Tita Juita, Dra, M.Pd, M.Kes selaku dosen mata kuliah Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini.
2)      Kedua orang tua kami, serta semua pihak yang telah memberikaan semangat, ide dan bantuannya sehingga penyusun dapat menylesaikan Makalah ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan ini, masih banyak terdapat kekeliruan, seperti pepatah tak ada gading yang tak retak, penulis akan sangat berlapang dada dan besar hati menerima saran dan kritik yang bersifat membangun, bermanfaat bagi kelanjutan pembuatan makalah yang selanjutnya.
                                                                                                                                                               
Ciamis , Desember 2011

 Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI...................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
1.1     Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2     Rumusan Masalah....................................................................................... 1
1.3     Tujuan Pembahasan..................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 2
A.       Indera Penglihat (Mata).......................................................................... 2
B.       Indera Pendengar (Telinga)........................................................................... 6
C.       Indera Peraba (Kulit).................................................................................. 10
D.       Indera Pengecap (Lidah).................................................................................. 11
E.        Indera Pembau (Hidung)................................................................................. 11
BAB III KESIMPULAN................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................... 14

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Alat indera adalah organ yang berfungsi untuk menerima jenis rangsangan tertentu. Semua organism memiliki reseptor sebagai alat penerima informasi. Informasi tersebut dapat berasal dari dalam dirinya atau datang dari luar. Reseptor diberi nama berdasarkan jenis rangsangan yang diterimanya, seperti kemoreseptor (penerima rangsang zat kimia), fotoreseptor (penerima rangsang cahaya), aodioreseptor (penerima rangsang suara), dan mekanoreseptor (penerima rangsang fisik, seperti tekanan, sentuhan, dan getaran). Selain itu dikenal pula beberapa reseptor yang berfungsi mengenali perubahan lingkungan luar yang dikelompokkan sebagai eksoreseptor. Sedangkan kelompok reseptor yang berfungsi untuk mengenali lingkungan dalam tubuh disebut interoreseptor. Interoreseptor terdapat diseluruh tubuh manusia.
Eksoreseptor yang kita kenal ada lima macam, yaitu indera penglihat(mata), pendengar (telinga), peraba (kulit), pengecap (lidah), dan pembau (hidung). Untuk lebih memahami kelima eksoreseptor tersebut, maka kami akan membahasnya dalam Sistem Indera.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa saja bagian- bagian yang terdapat dalam kelima alat indera tersebut?
2.      Bagaimana cara kerja dari kelima alat indera tersebut?

1.3  Tujuan Pembahasn
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan pembuatan makalah adalah untuk :
1.      Mengetahui bagian- bagian yang terdapat dalam kelima alat indera tersebut.
2.      Mengetahui cara kerja dari kelima alat indera tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Indera Penglihat (Mata)
Mata memiliki sejumlah reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot- otot yang berfungsi sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata dan bulu mata.
Gambar. Struktur mata manusia

1.      Lapisan Bola Mata
Bola mata memiliki garis tengah kira- kira 2,5 cm, bagian depannya bening. Bola mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu sklera, koroid dan retina.
a)      Sklera
Sklera merupakan lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat fibrosa dan berwarna putih. Fungsi lapisan ini sebagai pelindung. Disebelah luar sclera terdapat lapisan sel- sel ephitelium yang membentuk membrane mukosa yang disebut konjungtiva. Lapisan konjungtiva menjaga kelembapan mata. Lapisan sclera dibagian depan bersifat transparan, disebut kornea. Kornea berfungsi menerima cahaya yang masuk ke bagian dalam mata dan membelokkan berkas cahaya sedemikian rupa sehingga dapat difokuskan. Lapisan konjungtiva tidak menutupi sclera.
b)      Koroid
Koroid adalah lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat yang memiliki banyak pembuluh darah dan sejumlah sel pigmem. Letaknya disebelah dalam sclera. Dibagian depan mata, lapisan koroid memisahkan diri dari sclera membentuk iris yang tengahnya berlubang. Lubang itu disebut orang- orangan mata atau pupil. Sinar masuk melalui pupil. Dibelakang iris terdapat selaput berpigmen yang memancarkan warna biru, hijau, coklat, atau hitam. Melebar atau menyempitnya pupil diakibatkan oleh kontraksi dan relaksasinya otot yang mengelilingi iris (otot sirkuler). Jadi iris berfungsi sebagai diafragma.
Tepat dibelakang iris terdapat badan siliaris yang tersusun atas serabut otot sirkuler dan serabut- serabut otot yang letaknya seperti jari- jari sebuah lingkaran. Selain itu dibelakang iris terdapat sebuah lensa cembung (bikonveks) yang diikat oleh otot- otot lensa. Badan siliaris ini berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi otot sirkuler pada badan siliaris menentukan tebal- tipisnya lensa (akomodasi). Akomodasi mata berarti memfokuskan bayangan, sedangkan kemampuan pemfokusan objek pada jarak yang berbeda disebut daya akomodasi. Akomodasi bertujuan agar bayangan yang terjadi jatuh tepat pada bintik kuning. Apabila melihat objek yang letaknya jauh, lensa mata menjadi lebih pipih, tetapi jika melihat objek yang letaknya dekat, lensa mata menjadi lebih cembung. Pengaturan kecembungan lensa ini diatur oleh otot- otot lensa yang melingkar (otot siliaris). Saat melihat objek yang jauh otot lensa berelaksasi, sedangkan bila melihat objek yang dekat otot lensa berkontraksi.
Lensa mata berbentuk bikonveks. Lensa mata membagi mata menjadi dua rongga, yaitu ruangan antara kornea denga lensa (rongga muka), dan ruangan dibelakang lensa (rongga belakang). Kedua rongga tersebut diisi cairan kental dan transparan seperti jeli. Rongga depan berisi aqueous humour (humor berair), sedangkan rongga belakang berisi vitreous humour (humor bening). Kedua macam cairan tersebut berfungsi membantu memfokuskan cahaya kedalam retina.
c)      Retina
Retina merupakan lapisan bagian dalam yang sangat halus dan sangat sensitive terhadap cahaya. Pada retina terdapat reseptor (fotoreseptor). Fotoreseptor berhubungan dengan bagian badan sel- sel saraf yang serabutnya membentyuk urat saraf optic yang memanjang sampai ke otak. Bagian lapisan retina yang dilewati berkas urat saraf yang menuju ke otak tidak memiliki reseptor dan tidak peka terhadap sinar. Apabila sinar mencapai bagian ini kita tidak dapat mengenali cahaya. Oleh karena itu, daerah ini disebut bintik buta.
Gambar. Benda dan bayangan pada retina
Gambar. Struktur retina mata

2.      Reseptor Mata
Pada retina terdapat dua macam sel reseptor (fotoreseptor), yaitu sel kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus). Jika diurutkan dari arah depan ke belakang, cahaya akan menembus melewati kornea, aqueous humour, lensa, vitreous humour, dan lapisan retina yang mengandung sel kerucut dan sel batang. Pada retina terdapat satu daerah yang disebut fovea atau bintik kuning yang hanya berisi sel- sel kerucut. Penyebaran sel kerucut dan sel batang pada retina tidak merata. Dibagian tepi (perifer) yang paling jauh dari bintik kuning hanya berisi sel batang.
Gambar. Penampang sel batang
Sel batang berjumlah sekitar 125 juta buah dalam setiap mata. Sel batang sangat peka terhadap intensitas cahaya rendah, tetapi tidak mampu membedakan warna. Oleh karena itu kita dapat melihat dimalam hari tetapi yang terlihat hanya warna hitam dan putih saja. Bayangan yang dihasilkan dari sel ini tidak tajam.
Sel kerucut jumlahnya sekitar 5 juta pada setiap mata. Sel kerucut sangat peka terhadap intensitas cahaya tinggi. Sehingga berperan untuk penglihatan siang hari dan untuk membedakan warna.
Gambar. Sel- sel yang berperan dalam menghantarkan impuls cahaya
3.      Kelainan pada Mata
Jarak titik dekat adalah jarak terpendek antara benda atau objek dengan mata sehingga mata masih dapat mengenali benda itu dengan jelas. Lebih pendek lagi jaraknya, mata sudah tidak dapat mengenali benda dengan jelas. Usia seseorang dapat menyebabkan perubahan jarak titik dekat. Pada usia anak- anak, jarak titik dekat pendek, tetapi dengan bertambahnya usia, jarak titik dekat semakin panjang. Sebagai perbandingan pada usia 11 tahun jarak titik dekat sekitar 9 cm, namun pada seseorang yang berusia 40- 50 tahun jarak titik dekat menjadi 50 cm. itulah sebabnya orang yang berusia lanjut menjauhkan buku bacaannya apabila dia membaca buku. Untuk menolongnya digunakan kacamata lensa cembung (+).
Berbagai macam kelainan penglihatan terjadi apabila unsur- unsur sistem optic tidak menunjang. Macam- macam kelainan mata diantaranya sebagai berikut:
Jenis kelainan
         
Penyebab
         
Ditolong dengan
Hipermetropia (rabun dekat)
         
Lensa mata tidak dapat mencembung atao bola mata terlalu pendek sehingga bayangan benda jatuh dibelakang retina.
         
Lensa cembung (konvergen/ positif)
Miopia (rabun jauh)
         
Lensa mata terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga bayangan benda jatuh didepan retina.
         
Lensa cekung (divergen/ negatif)
Presbiopia
         
Elastisitas mata berkurang karena usia tua.
         
Lensa rangkap (dua macam lensa)
Astigmatisme
         
Permukaan lensa mata tidak sama sehingga fokusnya tidak sama, dan bayangan benda yang terbentuk tidak sama.
         
Lensa silindris (silinder)
Katarak
         
Lensa mata buram, tidak elastis akibat pengapuran sehingga daya akomodasi berkurang.
         
Operasi
Glaukoma
         
Adanya penambahan tekanan dalam mata, karena cairan dalam bilik anterior mata (aqueous humour) belum sempat disalurkan keluar sehingga tegangan yang ditimbulkan dapat menyebabkan tekanan pada saraf optik; lama- kelamaan akan menyebabkan hilangnya daya penglihatan.
         
Obat- obatan, operasi dengan menggunakan laser.

B.       Indera Pendengar (Telinga)
Telinga merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.
Gambar. Struktur telinga manusia

1.        Telinga luar
Telinga luar terdiri atas daun telinga damn lubang telinga luar. Daun telinga terdiri atas tulang rawan dan jaringan fibrosa, kecuali pada ujung telinga bawah, yaitu cuping telinga, terdiri atas lemak. Daun telinga berfungsi untuk menerima dan mengumpulkan suara yang masuk. Saluran luar yang dekat denga lubang telinga dilengkapi dengan rambut- rambut halus yang menjaga agar benda asing tidak masuk, dan terdapat kelenjar lilin yang berperan menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak kering.

2.        Telinga tengah
Telinga tengah merupakan rongga yang berhubungan dengan faring melalui saluran eustachius. Fungsi saluran ini menjaga keseimbangan tekanan udara antara udara luar dengan udara didalam telinga tengah. Pada telinga tengah terdapat membrane timpani dan tulang- tulang telinga tengah. Membrane timpani (disebut juga dengan istilah gendang telinga) merupakan selaput yang menerima \gelombang bunyi dan memisahkan antara telinga luar dan telinga dalam.
Tulang- tulang telinga tengah terdiri atas tiga macam, yaitu tulang matil(malleus) yang menempel pada gendang telinga, tulang landasan (incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Tulang martil(bentuknya seperti matil) melekat pada gendang telinga dan tulang sanggurdi (bentuknya enyerupai sanggurdi, tempat pijakan kaki dalam menunggang kuda) berhubungan dengan jendela oval pada telinga dalam. Rangkaian ketiga tulang ini berfungsi untuk mengalirkan getaran suara dari gendang telinga menuju ke rongga telinga dalam.

3.        Rongga telinga dalam
Rongga telinga dalam terdiri dari rongga yang menyerupai saluran saluran. Rongga rongga ini disebut labirin tulang dan dilapisi dengan membrane sehingga disebut juga labirin membrane. Labirin tulang terdiri dari tiga bagian, yaitu vestibula, koklea(rumah siput),dan tiga saluran satengah lingkaran.labirin membrane terdiri dari utrikulus dan sakulus didalam vastibula,saluran koklea didalam koklea,dan membrane saluran setengah lingkaran.vestibula (mengandung utrikulus dan sakulus) dan saluran setengah lingkaran merupakan orga keseimbangan, sedangkan koklea merupakan organ pendengar.
Rumah siput atau koklea merupakan suatu tabung yang panjangnya sekitar 3 cm dan bergelung seperti cangkang keong srta berisi cairan limpa. Koklea tersebut berbentu saluran melingkar yang terdiri atas tiga ruangan, yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani. Skal vestibule dan skala timpani mengandung cairan yang disebut perilimfe. Skala media juga mengandung cairan yang disebut endolimfe. Skala festibuli berhubungan dengan skala timpani melalui lubang kecil yang disebut helikontrema. Skala festibuli berakhir pada jendela oval (foramen ovale), sedangkan skala timpani berakhir pada jendela bundar. Antara skala festibuli denga skala media terdapat membran reissner, sedangkan anrata skala media denga skala timpani terdapat membrane basiler. Didalam skala media terdapat suatu tonjolan yang disebut membrane tektorial yang sejajar dengan membrane basiler.
Didalam skala media bagian dalam atau tengah terdapat organ korti. Organ korti berisi ribuan sel rambut sensori yang merupakan reseptor getaran (reseptor fibrasi). Sel- sel rambut tersebut terletak di atara membrane basiler dan membrane tektorial dasar dari sel reseptor pendengar tersebut berhubungan dengan serabut saraf  yang bergabung membentuk saraf pendengar.
Gambar. Telinga tengah dan dalam


4.        Proses mendengar
Mekanisme mendengar dimulai dengan adanya gelombang bunyi yang masuk melalui liang telinga, yang akan menggetarkan membrane timpani. Getaran ini akan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui tulang- tulang pendengaran. Selanjutnya getaran di teruskan ke telinga dalam melalui selaput jendela oval dan mengetarkan cairan perilimfe yang terdapat di dalam skala vestibuli.
Getaran cairan tersebut akan menggetarkan membrane reissner dan menghgetarkan cairan endolimfe di dalam skala media. Getaran cairan ini menggerakan membrane basiler yang selanjutnya menggetarkan cairan dalam skala timpani. Pada saat membrane basiler bergetar  akan menggerakan sel- sel rambut, dan ketika se- sel rambut tersebut menyentuh membrane tektorial terjadilah rangsangan (impuls) yang akan dikirim ke pusat pendengar didalam otak melalui saraf sensori (saraf pendengar).
Gambar. Proses mendengar


5.        Alat keseimbangan
Alat ini berupa saluran setengah lingkaran dan setiap saluran menggembung pada salah satu ujungnya yang disebut ampula. Di dalam ampula terdapat reseptor yang berupa kelompok sel saraf sensori yang memiliki rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah, disebut kupula. Selain tiga saluran setengah lingkaran terdapat alat keseimbangan yuang terletak di dalam utrikulus dan sakulus yang berupa sekelompok sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolit, yaitu bola- bola kalsium karbonat yang ukurannya sangat kecil. Perubahan posisi kepala menyebabkan otolit bergeser possisinya, akibatnya timbul impuls yang akan dikirim ke otak, sehingga kita merasakan sedang miring atau tegak. Gerakan melingkar pada kepala mengakibatkan terjadinya cairan limfe dan menggerakan otolit meskipun kita sudah berhenti berputar. Akibatnya kita merasa pusing.
Gambar. Alat- alat keseimbangan pada telinga
6.        Kelainan pada telinga
Kelainan pada telinga dapat di kelompokan menjadi dua kelompok, yaitu:
ü  Gangguan perambatan suara
Suara dari luar dapat terhambat oleh kotoran telinga, tumor dan zat-zat lain yang menyumbat liang telinga. Selain itu, kerusakan tulang-tulang pendengaran juga mengganggu perambatan suara. Kerusakan tulang pendengar di awali oleh gejala telinga mendengung. Infeksi telinga juga menganggu perambatan suara. Infeksi ini disebut otitis. Telinga tengah, yang berhubungan dengan faring, dapat terinfeksi oleh bakteri atau virus. Lukanya menghasilkan nanah dan bau tak sedap.
ü  Gangguan saraf pendengaran
Gangguan saraf pendengaran biasanya terjadi pada usia lanjut. Ini disebut presbikusis. Saraf penderita mengalami kemunduran (degenerasi). Kerusakan saraf pendengaran juga dapat di akibatkan oleh kebisingan (polusi suara) yang di sebabkan oleh suara berfrekuensi  tinggi.

7.        Teknologi membantu pendengaran
Teknologi yang umum dijumpai adalah penggunakan alat bantu dengar. Hal ini di lakukan apabila proses perambatan impuls suara tidak dapat mencapai telinga tengah, misalnya karena tulang-tulang pendengar rusak. Pada daun telinga di pasang alat penerima suara, yang kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sinyal tersebut dirambatkan melalui elektroda ke telinga dalam. Dengan demikian penderita dapat menangkap suara.

C.      Indera Peraba (Kulit)
Kulit merupakan indra peraba, sebab memiliki ujung-ujung saraf sensori sebagai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, temperature (panas dan dingin), serta rasa sakit. Sebagian reseptor terletak pada lapisan dermis, dan ada juga yang terletak pada lapisan epidermis. Ujung-ujung saraf tersebut ada yang terbungkus kapsul (di sebut korpuskula) dan ada yang tidak terbungkus (di sebut ujung-ujung saraf bebas). Ujung saraf yang tergolong korpuskula adalah korpuskula Meissner (reseptor untuk sentuhan terletak dekat permukaan kulit), korpuskula Pacini (raseptor tekanan),dan korpuskula Ruffini (ujung saraf peraba).Ujung saraf bebas antara lain reseptor untuk rasa sakit dan sentuhan yang keduanya terletak di lapisan epidermis kulit, serta reseptor untuk sentuhan yang terletak di pangkal setiap rambut. Selain itu ada pula lempeng Merkel yang merupakan ujung saraf perasa sentuhan dan tekanan ringan.
Gambar. Kulit dan reseptor pada manusia

D.      Indera Pengecap (Lidah)
Lidah merupakan organ yang tersusun atas otot. Prmukaan lidah banyak tonjolan kecil yang disebut papilla lidah, memberi kesan lidah terkesan kasar. Pada papilla lidah terdapat indra pengecap. Pemukaan lidah di lapisi lapisan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu terdapat reseptor pengecap berupa kuncup pengecap. Kumcup pengecap tersebut terdiri atas sekelompok sel sensori yang memiliki tonjoplan seperti rambut. Kuncup pengcap dapat membedakan empat macam rasa, yaitu manis, pahit,asam, dan asin. Letak kuncup pengecap tertentu lebih banyak berkumpul pada daerah tertentu pada lidah.
Gambar. (a) letak kuncup pengecap tertentu pada lidah, (b) struktur kuncup pengecap
E.       Indera Pembau (Hidung)
Manusia mampu mendeteksi bau dengan menggunakan reseptor yang ada di dalam hidung. Sel-sel sensori penerima rangsang gas kimia (kemoreseptor) terdapat pada lapisan epitelium yang terletak di sebelah dorsal rongga hidung, dan terlindung oleh lender (mukus). Di akhir setiap sensori terdapat beberapa silia atau rambut pembau. Molekul-molekul yang larut dalam air dan lemak yang ada di udara akan larut dalam lapisan lendir tersebut dan menimbulkan sensasi bau. Aktifnya indra pembau di rangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra pembau tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika di hadapkan pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama. Contohnya jika kita berada dalam ruangan yang sesak dan pengap, maka kita tidak akan segera merasakan bau yang tidak enak tersebut.
Indra pembau dapat juga menjadi lemah jika selaput lender hidung sangat kering, sangat basah, atau membengkak.
Antara indra pengecap dan pembau terdapat hubungan yang erat. Makanan atau bahan yang lain dapat di rasakan kenikmatannya karena adanya kerjasama antara indra pengecap dan pembau. Apabila salah satu alat itu terganggu, maka kenikmatannya berkurang. Sebagai contoh orang yang terkena flu (pilek) kurang dapat merasakan kenikmatan karena ujung-ujung saraf pembau terganggu.

Gambar. Struktur indera pembau

BAB III
KESIMPULAN

Dari uraian diatas dapat kami simpulkan sebagai berikut:
1.        Indera Penglihat (Mata); memiliki sejumlah reseptor khusus untuk mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot- otot yang berfungsi sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata dan bulu mata. Bola mata memiliki garis tengah kira- kira 2,5 cm, bagian depannya bening. Bola mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu sklera, koroid dan retina.
2.        Indera Pendengar (Telinga) merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga terdiri dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga dalam.
3.        Indera Peraba (Kulit) merupakan indra peraba, sebab memiliki ujung-ujung saraf sensori sebagai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, temperature (panas dan dingin), serta rasa sakit.
4.        Indera Pengecap (Lidah) merupakan organ yang tersusun atas otot. Prmukaan lidah banyak tonjolan kecil yang disebut papilla lidah, memberi kesan lidah terkesan kasar. Pada papilla lidah terdapat indra pengecap.
5.        Indera Pembau (Hidung); aktifnya indra pembau di rangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra pembau tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika di hadapkan pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama.
SISTEM INDRA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia                                                                                          

Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Pomank Template | omank Template
Copyright © 2011. galery makalah - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Pomank Template
Proudly powered by Blogger